Rabu, 28 Mei 2014

askep ca.serviks



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kanker merupakan penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh, yang dalam perkembanganya sel tersebut berubah menjadi sel kanker.Sel-sel kanker dapat menyebar kebagian tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkankematian. Kanker memiliki berbagai macam jenis dengan berbagai akibat dan salahsatu jenis kanker adalah kanker serviks.
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.
Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona transisional yang terletak antara epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar.Hingga saat ini kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara berkembang. Sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah bila program skrining sitologi dan pelayanan kesehatan diperbaiki. Diperkirakan setiap tahun dijumpai sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya terjadi di negara  berkembang.Penyakit ini berawal dari infeksi virus yang merangsang perubahan perilaku sel epitel serviks.
Kanker serviks merupakan kanker yang dapat menyerang semua perempuan,terbukti di Dunia setiap 2 menit seorang perempuan meninggal karena kanker serviks sedangkan di Asia Pasifik setiap 4 menit seorang perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker ini juga merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan Asia dan lebih dari setengah perempuan Asia yang menderita kanker serviks meninggal, ini sama artinya dengan 226.000 perempuan yang didiagnosaterkena kanker serviks sebanyak 143.000 perempuan meninggal karenanya(Sylvia, 2005).
Di Indonesia, sampai saat ini penyakit kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian wanita yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia, karena sebagian besar penderita kanker serviks di Indonesia baru datang berobat setelah stadium lanjut. Jika sudah pada stadium lanjut maka akan sulit untuk  mencapai hasil pengobatan yang optimal dan hal tersebut membuat penderita sangat khawatir dan cemas dengan keadaannya.
Pada saat ini sedang dilakukan penelitian vaksinasi sebagai upaya pencegahan dan terapi utama penyakit ini di masa mendatang.Risiko terinfeksi virus HPV dan beberapa kondisi lain seperti perilaku seksual, kontrasepsi, atau merokok akan mempromosi terjadinya kanker serviks. Mekanisme timbulnya kanker serviks ini merupakan suatu proses yang kompleks dan sangat variasi hingga sulit untuk dipahami.
Insiden dan mortalitas kanker serviks di dunia menempati urutan kedua setelah kanker payudara. sementara itu, di negara berkembang masih menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian akibat kanker pada usia reproduktif. Hampir 80% kasus berada di negara berkembang. Sebelum tahun 1930, kanker servik smerupakan penyebab utama kematian wanita dan kasusnya turun secara drastik semenjak diperkenalkannya teknik skrining pap smear oleh Papanikolau. Namun, sayang hingga kini program skrining belum lagi memasyarakat di negara berkembang, hingga mudah dimengerti mengapa insiden kanker serviks masih tetap tinggi.
Hal terpenting menghadapi penderita kanker serviks adalah menegakkan diagnosis sedini mungkin dan memberikan terapi yang efektif sekaligus prediksi prognosisnya. Hingga saat ini pilihan terapi masih terbatas pada operasi, radiasi dan kemoterapi, atau kombinasi dari beberapa modalitas terapi ini. Namun, tentu saja terapi ini masih berupa “simptomatis” karena masih belum menyentuh dasar penyebab kanker yaitu adanya perubahan perilaku sel. Terapi yang lebih mendasar atau imunoterapi masih dalam tahap penelitian.Saat ini pilihan terapi sangat tergantung pada luasnya penyebaran penyakit secara anatomis dan senantiasa berubah seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran.
Penentuan pilihan terapi dan prediksi prognosisnya atau untuk membandingkan tingkat keberhasilan terapi baru harus berdasarkan pada perluasan penyakit. Secara universal disetujui penentuan luasnya penyebaran penyakit melalui sistem stadium.
A.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah mengetahui konsep dasar penyakit dan secara kasus tentang asuhan keperawatan dengan Kanker Serviks.

B.     Tujuan
Tujuan umum:
a)      Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Kanker Serviks.
Tujuan Khusus:
a)      Mampu mengidentifikasi pengertian, etiologi, tanda dan gejala, klasifikasi, patofisiologi, penatalaksanaan, pemeriksaan diagnostik, dan komplikasi pada Kanker Serviks.
b)      Mampu mengidentifikasi proses keperawatan dengan Kanker Serviks meliputi:
-    Pengkajian
-    Diagnosa Keperawatan
-    Intervensi dan Rasionalisasi

C.    Manfaat
  1. Mahasiswa:
-          Mahasiswa memahami penyakit Kanker Serviks sehingga menunjang pembelajaran mata kuliah sistem pencernaan.
-          Mahasiswa mengetahui proses keperawatan yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam persiapan praktik di rumah sakit.
  1. Institusi:
-          Dapat membantu perkembangan ilmu keperawatan khususnya proses  keperawatan dengan Kanker Serviks di institusi kelompok melakukan studi.
-          Dijadikan acuan dan bahan bagi penulis/kelompok lain yang berminat untuk menulis makalah tentang asuhan keperawatan dengan Kanker Serviks.
  1. Masyarakat:
-          Masyarakat mampu memahami apa itu Kanker Serviks, beserta penyebab dan akibatnya.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Konsep Dasar Penyakit

1.      Anatomi dan Fisiologi
Alat reproduksi wanita terdiri dari dua bagian utama yaitu : organ reproduksi bagian luar dan organ reprokduksi bagian dalam (Sylvia, 2005).
a.       Organ reproduksi bagian luar
Bagian reproduksi bagian luar terdiri dari :
1.      Mons veneris : Bagian yang menonjol dibagian simfisis. Pada perempuan dewasa di tutupi oleh rambut kemaluan
2.      Labia mayora (bibir-bibir besar) terdiri dari bagian kanan dan kiri, lonjong menegecil kebawah. Di sebelah bawah dan belakang kedua labia mayora bertemu dan membentuk komisura posterior.
3.      Labia minora (bibir-bibir kecil) adalah suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam bibir besar. Kedepan kedua bibir kecil bertemu dan membentuk preputium kklitoridis diatas klitoris dan frenulum klitoridis dibawah klitoris. Kebelakang kedua bibir kecil bersatu dan membentuk fossa navikulare. Kulit yang meliputi bibir kecil mengandung banyak kelenjar lemak dan ujung-ujung urat saraf menyebabkan bibir kecil amat sensitif. Jaringan ikatnya mengandung banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan bibir kecil dapat mengembang.
4.      Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil terletek tepat di bawah arkus pubis. Dalam keadaan tidak terangsang,bagian yang terlihat kira-kira sebesar kacang hiaju, terdiri dari glans dan korpus klitoridis membesar. Glans klitoridis mengandung banyak pembuluh darah dan persarafan membuat klitoris sangat sensitif terhadap suhu, sentuhan dan sensasi tekanan. Fungsi utama klitoris adalah merangsang dan meningkatkan ketegangan seksual.
5.      Vulva berbentuk lonjong, memanjang dari muka ke belakang. Dimuka dibatasi oleh klitoris, dikanan dan  kiri dibatasi oleh kedua bibir kecil dan di belakang oleh perinium. Kira-kira 1-1,5 cm di bawah klitoris terdapat lubang kemih yang berbentuk membujur, kira-kira 4-5 mm. Lubang kemih tertutup oleh lipatan-lipatan selaput vagina yang menyebabkan kadang-kadang sukar ditemukan. Tidak jauh dari lubang kemih di kiri dan kanan bawahnya terdapat kelenjar/ skene, di kiri dan dikanan bawah dekat fossa navikulare terdapat kelenjar Bartholin. Pada waktu koitus kelenjar bartholini mengeluarkan getah lendir.
6.      Bulbus vestibuli kiri dan kanan terletak dibawah selaput lendir vulva, menagndung banyak pembuluh darah. Pada waktu persalinan biasanya kedua bulbus tertarik ke atas, kebawah arkus pubis, akan tetapi bagian bawahnya yang melingkari vagina sering menaglami cedera, kadang-kadang timbul hematoma vulva atau perdarahan
7.      Introitus vagina mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda pada setiap individu. Pada wanita, introitus dilindungi oleh labia minora, baru dapat dilihat jika bibir kacil dibuka, ditutupi oleh himen atau selaput dara.
8.      Perineum, terletak antara vulva dan anus, ditutupi kulit. Panjangnya kira-kira 4 cm.
b.      Organ reproduksi bagian dalam
Organ reproduksi bagian dalam terdiri dari:
1.      Vagina (liang kemaluan) ditemuakan setealah melewati introitus vagina yang menghubungkan introitus dan uterus, terletak di belakag rektum dan di belakng kandung kemih dan uretra. Dinding depan lebih pendek (sekitar 9 cm) dan berdekatan satu sama lain. Bagian sebelah dalam vagina berlipat-lipat disebut rugae, ditengahnya ada bagian yang lebih keras disebut kolumna rugarum. Lipatan-lipatan tersebut memungkikan vagina dapat melebar pada waktu persalinan. Mukosa vagian berespon dengan cepat terhadap stimulasi estrogen dan perogestron. Sel-sel yang diambil dari mukosa vagina dapat digunakan untuk mengukur kadar hormon seks steroid. Cairan vagina sedikit asam, berasal dari saluran genetalia atau bawah. Intraksi antara laktobasilus vagina dan glikogen mempertahankan keasaman (P.H. 4.5). apa bila cairan PH naik antara 5, maka insiden infeksi vagina meningkat. Kebersihan relatif vagina dipertahankan oleh cairan yang terus mengalir dari vagina. Fungsi vagina adalah sebagai organ untuk koitus dan jalan lahir.
2.      Uterus adalah organ berdinding tebal, muskular dan pipih, tampak seperti buah peer terbalik. Dalam keadaan fisiologis, posisi uterus adalah anteversiofleksio (serviks ke depan dan membentuk sudut dengan vagina, begitu juga dengan korpus uteri kedepan dan membentuk sudut denagan serviks uteri). Uterus (rahim) merupakan organ yang memiliki peranan besar dalam reproduksi wanita, yakni dari saat menstruasi hingga melahirkan. Bentuknya seperti buah pear, berongga, dan berotot. Sebelum hamil beratnya 30-50 gram dengan ukuran panjang 9 cm dan lebar 6 cm kurang lebih sebesar telur ayam kampung. Tetapi saat hamil mampu membesar dan beratnya mencapai 1000 gram.
Uterus terdiri dari 3 lapisan, yaitu:
·         Lapisan parametrium merupakan lapisan paling luar dan yang berhubungan dengan rongga perut.
·         Lapisan myometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar pada proses persalinan (kontraksi)
·         Lapisan endometrium merupakan lapisan dalam rahim tempat menempelnya sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan ini terdiri dari lapisan kelenjar yang berisi pembuluh darah.
Setelah menstruasi permukaan dalam uterus menjadi tebal karena pengaruh hormon estrogen. Kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan keluarnya cairan karena pengaruh hormon progresteron. Bila tidak terjadi pembuahan maka lapisan tadi bersama sel telur akan terlepas (meluruh) dan keluar melalui vagina yang disebut sebagai menstruasi. Waktu antara dua menstruasi disebut siklus menstruasi. Walaupun rata-rata periodenya datang setiap 28 hari, hal ini dapat bervariasi pada setiap perempuan. Periode ini juga sangat tidak teratur pada 2-3 tahun pertama mulai menstruasi.
3.      Tuba falopii adalah organ yang dikenal dengan istilah saluran telur. Saluran telur adalah sepasang saluran yang berada pada kanan dan kiri rahim sepanjang +10cm yang menghubungkan uterus dengan ovarium melalui fimbria. Ujung yang satu dari tuba falopii akan bermuara di uterus sedangkan ujung yang lain merupakan ujung bebas dan terhubung ke dalam rongga abdomen. Ujung yang bebas berbentuk seperti umbai yang bergerak bebas. Ujung ini disebut fimbria dan berguna untuk menangkap sel telur saat dilepaskan oleh ovarium (indung telur). Dari fimbria, telur akan digerakkan oleh rambut-rambut halus yang terdapat di dalam saluran telur menuju ke dalam rahim.
4.      Ovarium terletak pada kiri dan kanan ujung tuba (fimbria/umbai-umbai) dan terletak di rongga panggul. Ovarium merupakan kelenjar yang memproduksi hormon estrogen dan progresteron. Ukurannya 3×3×2 cm, tiap ovarium mengandung 150.000-200.000 folikel primordial. Sejak pubertas setiap bulan secara bergantian ovarium melepas satu ovum dari folikel degraaf (folikel yang telah matang), peristiwa ini disebut ovulasi.

2.      Definisi
         Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal disekitarnya (Brunner & Suddart.2002) Kanker cerviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau cerviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina). Kanker cerviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. (Farid Aziz. 2006)
         Kanker Serviks adalah pertumbuhan sel-sel mulut rahim/serviks yang abnormal dimana sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan. Kanker ini hanya menyerang wanita yang pernah atau sekarang dalam status sexually active. (Rahmawan, 2009). Karsinoma serviks adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada serviks. Karsinoma serviks merupakan karsinoma yang primer berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau porsio). Serviks adalah bagian ujung depan rahim yang menjulur ke vagina (Cunningham, 2010).
         Kanker serviks adalah keadaan dimana sel kehilangan kemampuannya dalam mengendalikan kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya. Normalnya, sel mati seimbang dengan jumlah sel yang tumbuh. Apabila sel tersebut sudah mengalami malignasi/keganasan atau bersifat kanker maka sel tersebut terus menerus membelah tanpa memperhatikan kebutuhan, sehingga membentuk tumor atau berkembang “tumbuh baru” tetapi tidak semua yang tumbuh baru itu bersifat karsinogen (Ocviyanti Dwiana. 2008).

3.      Etiologi
Menurut (Ocviyanti Dwiana. 2008) Penyebab karsinoma serviks masih berupa perkiraan, tetapi sebagian besar data epidemiologik memasukkan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual. Penyebab utamanya adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV) yang dapat menyebabkan kanker. HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks.Biasanya sebagian besar infeksi akan sembuh dengan sendirinya namun kadang bisa menjadi infeksi persisten yang dapat berkembang menjadi kanker serviks. Virus HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual dan HPV dapat bertahan dalam suhu panas.
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1)      Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
 Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.
2)      Jumlah kehamilan dan partus
 Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
3)      Jumlah perkawinan
 Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
4)      Infeksi virus
 Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks.


5)      Sosial Ekonomi
 Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
6)      Hygiene dan sirkumsisi
 Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
7)      Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
 Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
4.      Manifestasi Klinis
Berdasarkan stadium (Sylvia, 2005):
1)      Stadium awal tidak memperlihatkan gejala
·         Vaginal discharge yg terus menerus
·         Perdarahan vagina abnormal
·         Haid lebih banyak dan lama
·         Cepat lelah
2)      Gejala lanjut dari ca cervik
·         Loss of appetite
·         Penurunan BB
·         Pelvic pain & Back pain
·         Perdarahan yang banyak dari vagina
·         Inkontinensia urin dan feses
·         Bone fraktur
·         Anemia

·         Keputihan
Gejala kanker serviks pada kondisi pra-kanker ditandai dengan Fluor albus (keputihan) merupakan gejala yang sering ditemukan getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan. Dalam hal demikian, pertumbuhan tumor menjadi ulseratif.

·         Perdarahan
Perdarahan yang dialami segera setelah bersenggama (disebut sebagai perdarahan kontak) merupakan gejala karsinoma serviks (75 -80%). Pada tahap awal, terjadinya kanker serviks tidak ada gejala-gejala khusus. Biasanya timbul gejala berupa ketidak teraturannya siklus haid, amenorhea, hipermenorhea, dan penyaluran sekret vagina yang sering atau perdarahan intermenstrual, post koitus serta latihan berat. Perdarahan yang khas terjadi pada penyakit ini yaitu darah yang keluar berbentuk mukoid. Menurut Baird (1991) tidak ada tanda-tanda khusus yang terjadi pada klien kanker serviks. Perdarahan setelah koitus atau pemeriksaan dalam (vaginal toussea) merupakan gejala yang sering terjadi. Karakteristik darah yang keluar berwarna merah terang dapat bervariasi dari yang cair sampai menggumpal. Perdarahan rektum dapat terjadi karena penyebaran sel kanker yang juga merupakan gejala penyakit lanjut.
·         Nyeri
Dirasakan dapat menjalar ke ekstermitas bagian bawah dari daerah lumbal. Pada tahap lanjut, gejala yang mungkin dan biasa timbul lebih bervariasi, sekret dari vagina berwarna kuning, berbau dan terjadinya iritasi vagina serta mukosa vulva. Perdarahan pervagina akan makin sering terjadi dan nyeri makin progresif. Gejala lebih lanjut meliputi nyeri yang menjalar sampai kaki, hematuria dan gagal ginjal dapat terjadi karena obstruksi ureter.



5.      Klasifikasi
Menurut Rahmawan (2009), klasifikasi pada kanker serviks dapat dibedakan menjadi:
1)      Klasifikasi klinis
·         Stage 0: Ca.Pre invasive
·         Stage I: Ca. Terbatas pada serviks
·         Stage Ia ; Disertai inbasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis
·         Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I
·         Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
·         Stage III : Sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian bawah vagina
·         Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.

2)      Klasifikasi pertumbuhan sel kanker serviks
a.       Mikroskopis
·         Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan dengan karsinoma insitu.
·         Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa. Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.
·         Stadium karsionoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.
·         Stadium karsinoma invasive
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi. Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.
Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kol, tumbuh ke arah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi ke dalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.
Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium. Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatl aun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.

b.      Markroskopis
·         Stadium preklinis
Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
·         Stadium permulaan
Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
·         Stadium setengah lanjut
Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
·         Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.





6.      Patofisiologi

Karsinoma in situ pada serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastic terdapat pada seluruh lapisan epitel. Perubahan prakanker lain yang tidak sampai melibatkan seluruh lapisan epitel serviks, disebut dysplasia yang dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Dysplasia adalah neoplasia servikal intraepithelial (CIN). Tingkatannya adalah CIN 1 (dysplasia ringan), CIN 2 (dysplasia sedang), CIN 3 (dysplasia berat dan karsinoma insitu) (Sylvia, 2005).
Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu (KIS) berkisar antara 1 – 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma insitu menjadi invasif adalah 3 – 20 tahun (Purnawan, 2002).
Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya perubahan displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 – 10 tahun perkembangan tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona transformasi, dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital yang tidak dapat diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat serta kontrol pertumbuhan sel normal sehingga terjadi keganasan  (Purnawan, 2002).
Karsinoma serviks invasive terjadi jika tumor menembus epitel masuk ke dalam stroma serviks. Invasi dapat terjadi pada beberapa tempat sekaligus dimana sel-sel tumor meluas ke dalam jaringan ikat dan akhirnya menembus pembuluh limfe dan vena. Karsinoma serviks invasive dapat menginvasi atau meluas ke dinding vagina, ligamentum kardinale, dan rongga endometrium; invasi ke kelenjar limfe dan pembuluh darah dapat menyebabkan metastasis ke tempat-tempat yang jauh (Sylvia, 2005).
Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel serviks; epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga berasal dari cadangan epitel kolumnar. Proses pergantian ini disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh pH vagina yang rendah. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat 2 SSK, yaitu SSK (Sel skuamosa karsinoma) asli dan SSK baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel skuamosa baru dengan epitel kolumnar (Rahmawan, 2009).
Daerah di antara kedua SSK ini disebut daerah transformasi. Masuknya mutagen atau bahan-bahan yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di daerah transformasi. Mutagen tersebut berasal dari agen-agen yang ditularkan secara hubungan seksual dan diduga bahwahuman papilloma virus (HPV) memegang peranan penting. Sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas tebal epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya kelainan pada sel. Sedangkan karsinoma in-situ adalah gangguan maturasi epitel skuamosa yang menyerupai karsinoma invasif tetapi membrana basalis masih utuh (Rahmawan, 2009). Klasifikasi terbaru menggunakan istilah Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS) untuk kedua bentuk displasia dan karsinoma in-situ. NIS terdiri dari ; NIS 1, untuk displasia ringan; NIS 2, untuk displasia sedang; dan NIS 3, untuk displasia berat dan karsinoma in-situ.
Patogenesis NIS dapat dianggap sebagai suatu spektrum penyakit yang dimulai dari displasia ringan, sedang, berat dan karsinoma in-situ untuk kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Beberapa penelitian menemukan bahwa 30-35% NIS mengalami regresi, yang terbanyak berasal dari NIS 1/NIS 2. Karena tidak dapat ditentukan lesi mana yang akan berkembang menjadi progresif dan mana yang tidak, maka semua tingkat NIS dianggap potensial menjadi ganas sehingga harus ditatalaksanai sebagaimana mestinya. (Rahmawan, 2009)

7.      WOC































































































8.      Pemeriksaan Diagnostik

Menurut WHO, wanita berusia antara 25 dan 65 tahun hendaknya menjalani screening test untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan awal. Wanita di bawah usia 25 tahun hampir tidak pernah terserang kanker serviks dan tidak perlu di-screening. Wanita yang tidak pernah berhubungan badan juga tidak perlu di-screening.
1)      Sitologi/Pap Smear
Wanita bisa mengurangi risiko terserangnya kanker serviks dengan melakukan Pap Smear secara teratur. Tes Pap adalah suatu tes yang digunakan untuk mengamati sel-sel leher rahim. Tes Pap dapat menemukan adanya kanker leher rahim atau sel abnormal (pra-kanker) yang dapat menyebabkan kanker serviks Hal yang paling sering terjadi adalah, sel-sel abnormal yang ditemukan oleh tes Pap bukanlah sel kanker. Sampel sel-sel yang sama dapat dipakai untuk pengujian infeksi HPV.
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2)      Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
3)      Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.
4)      Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali.

5)      Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya. Dengan bius lokal, jaringan yang dimiliki wanita diambil di tempat praktek dokter. Lalu seorang ahli patologi memeriksa jaringan di bawah mikroskop untuk memeriksa adanya sel-sel abnormal.
6)         Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.
7)      Tes IVA
 IVA adalah singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam asetat, merupakan metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks.
8)      Kolposkop untuk melihat leher rahim.
Kolposkop menggunakan cahaya terang dan lensa pembesar untuk membuat jaringan lebih mudah dilihat. Alat ini tidak dimasukkan ke dalam vagina. Kolposkopi biasanya dilakukan di tempat praktek dokter atau klinik. 
9)      LEEP: menggunakan loop kawat listrik untuk mengiris sepotong, bulat tipis dari jaringan serviks.
10)  Endoservikal kuret: menggunakan kuret (alat, kecil berbentuk sendok) untuk mengikis contoh kecil jaringan dari leher rahim. Beberapa dokter mungkin menggunakan kuas tipis lembut, bukan kuret.
11)  Conization: mengambil sebuah sampel jaringan berbentuk kerucut. Sebuah conization, atau biopsi kerucut, memungkinkan ahli patologi melihat apakah ada sel-sel abnormal dalam jaringan di bawah permukaan leher rahim. Para dokter mungkin melakukan tes ini di rumah sakit dengan anestesi / bius total.



9.    Pencegahan
Menurut Wiknjosastro (2006) ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks yaitu :
a.       Mencegah terjadinya infeksi HPV
b.      Melakukan pemeriksaan pap smear secara teratur
Pap smear ( tes papanicolau ) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel – sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula yang dibuat dari kayu / plastik ( yang dibedakan bagian luar serviks ) dan sebuah sikat kecil ( yang dimasukkan ke dalam saluran servikal ).
Sel – sel serviks lalu dioleskan pada kaca objek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa. 24 jam sebelum menjalani pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian / pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon. Pap smear sangat efektif dalam mendeetksi perubahan prekanker pada serviks. Jika hasil pap smear menunjukkan displasia/ serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kalposkopi dan biopsi.
Anjuran untuk melakukan pap smear secara teratur :
a.       Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
b.      Setiap tahun untuk wanita yang berganti – ganti pasangan seksual / pernah menderita infeksi HPV / kutil kelamin
c.       Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB
d.      Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia di atas 35 tahun jika 3 kali pap smear berturut – turut menunjukkan hasil negatif / untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker
e.       Sesering mungkin jika hasil pap smear menunjukkan abnormal
f.       Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan pre kanker  maupun kanker servik
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya :
1)      Anak perempuan yang berusia di bawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual
2)      Jangan melakukan hubungan seksual pada penderita kutil kelamin/ gunakan kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin
3)      Jangan berganti – ganti pasangan seksual
4)      Berhenti merokok
5)      Pemeriksaan panggul ( pap smear ) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual / pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi
6)      Identitas Klien
7)      Keluhan utama
8)      Status kesehatan
9)      Gejala yang dirasakan

10.  Penatalaksanaan
Menurut Cunningham (2010), penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita kanker serviks adalah sebagai berikut:
  1. Terapi local
1)      Histerektomi
Histerektomi mungkin juga dilakukan tergantung pada usia wanita, status anak, dan atau keinginan untuk sterilisasi. Histerektomi radikal adalah pengangkatan uterus, pelvis dan nodus limfa para aurtik.
2)      Pembedahan dan terapi radiasi
·         Pembedahan dilakukan untuk pengangkatan sel kanker.
·         Dilakukan pada kanker serviks invasive
·         Pada terapi batang eksternalbertujuan mengatahui luas dan lokasi tumor serta mengecilkan tumor
3)      Radioterapi batang eksternal
·         Dilakukan jika nodus limfe positif terkena dan bila batas-batas pembedahan itu tegas
·         Untuk terapi radiasi ini biasanya para wanita dipasang kateter urine sehingga tetap berada di tempat tidur, makan makanan dengan diet ketat dan memakan obat untuk mencegah defekasi, karena pada terapi ini biasanya terpasang tampon (aplikator)
4)      Eksenterasi pelvic
·         Dilakukan jika terjadi kanker setempat yang berulang
·         Dapat dilakukan pada bagian anterior, posterior, atau total tergantung organ yang diangkat ditambah dengan uterus dan nodus limfa disekitarnya.
5)      Kolostomi dan illeustomi: Illeustomi dilakukan untuk sebagai saluran pembuangan illeus.
6)      Terapi biologi: Yaitu dengan memperkuat system kekebalan tubuh (system imun
7)      Kemoterapi: Dengan menggunakan obat-obatan sitostastik.
8)      Radiasi
    • Dapat dipakai untuk semua stadium
    • Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
    • Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
9)      Operasi
    • Operasi limfadektomi untuk stadium I dan II
    • Operasi histerektomi vagina yang radikal
10)  Kombinasi (radiasi dan pembedahan)
      Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema.  Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.

B.     Terapi Radiasi Eksternal
1.      Perawatan sebelum pengobatan
Kuatkan penjelasan tentang perawatan yang digunakan untuk prosedur.
2.      Selama Terapi
·         Pilihlah kulit yang baik dengan menganjurkan menghindari sabun, kosmetik dan deodoran.
·         Pertahankan keadekuatan nutrisi.

3.      Perawatan Post Pengobatan
·         Hindari infeksi
·         Laporkan tanda-tanda infeksi
·         Monitor intake cairan dan juga keadekuatan nutrisi.
·         Beri tahu efek radiasi peresisten selama 10-14 hari sesudah pengobatan.
·         Lakukan perawatan kulit dan mulut.

  1. Terapi Radiasi Internal
1.      Pertimbangan Perawatan Umum
·         Teknik isolasi
·         Membatasi aktivitas
2.      Perawatan Pre Insersi
·         Turunkan kebutuhan untuk enema atau BAB, selama beberapa hari.
·         Pasang kateter sesuai indikasi
·         Puasakan malam hari sebelum prosedur dilakukan
·         Latih nafas panjang, latih ROM
·         Jelaskan tentang pembatasan pengunjung.
3.      Selama Terapi Radiasi
·         Monitor TTV tiap 4 jam
·         Latih ROM aktif dan nafas dalam setiap 2 jam
·         Beri makanan berserat dan cairan parenteral s/d 300 ml
·         Monitor intake dan output
·         Monitor tanda-tanda pendarahan
·         Beri support mental.
4.      Perawatan Post pengobatan
·         Hindari komplikasi post pengobatan (tromboplebitis emboli pulmonal dan pneumonia)
·         Hindari komplikasi akibat pengobatan itu sendiri (pendarahan, reaksi kulit, diare, disuria dan distansia vagina)
·         Monitor intake dan output cairan.

  1. Teknik Kombinasi Radiasi Eksternal dan Intrakaviter
1)      Stadium I dan II : Aplikasi radium 6500 rad dengan 2x aplikasi radiasi eksternal : 5000 rad / 5 minggu.
2)      Stadium III :  Radiasi eksternal seluruh pelvis 2000-3000 rad kemudian 4500-5000 rad.
3)      Stadium IV : Hanya radiasi eksternal untuk pengobatan paliative.

  1. Sitostatika dalam Ginekologi
Penggolongan obat sitostatika :
1)      Golongan yang terdiri atas obat-obat yang mematikan semua sel pada siklus ®  obat-obat non spesifik
2)      Golongan obat yang mematikan pada fase tertentu dari mana proliferasi ® obat fase spesifik.
3)      Golongan obat yang merusak semua sel akan tetapi pengaruh proliferasi sel lebih besar ® obat-obat siklus spesifik.

Macam – macam obat :
1)      Obat dengan Komponen Alkil (Alkilating Agent)
 Obat ini melepas alkil dalam selnya, menyebabkan gangguan pembentukan RNA. Obat ini mempengaruhi proliferasi dan interface. Efek toksik adalah : depresi sumsum tulang dengan gejala neutropeni dan trombositopeni dan pengaruh terhadap traktus digestivus dan folikel rambut (alopesia).
2)      Obat Anti Metabolit
 Obat ini mempunyai identitas kimiawi yang sama, akan tetapi menghalangi berfungsinya metabolit tersebut, sehingga akan mengganggu siklus dalam sel.
3)      Obat Antibiotik
 Obat ini berkhasiat spesifik terhadap siklus sel.
4)      Obat alkaloid
 Golongan ini menghentikan proses mitosis pada fase metastasis.
5)      Obat Hormon
Dasar terapi ini bahwa organ yang dalam keadaan normal, rentan terhadap hormon tertentu, dapat dipengaruhi oleh hormon dari luar.

Cara Pemberian Obat
1)      Pemberian Oral
Obat yang diberikan sebaiknya obat yang larut dalam lemak. Perlu diperhatikan bahwa pemberian obat oral dapat menyebabkan kerusakan sel epitelium sehingga mengakibatkan ulkus yang disertai depresi sumsum tulang. dapat disertai pendarahan.
2)      Pemberian Intramuskuler
Kurang dianjurkan karena dapat menimbulkan nekrosis, pendarahan lokal yang sukar dihentikan.
3)      Pemberian intravena
Pemberian intravena dapat dilakukan dengan penyuntikan langsung secara “bolus” atau per infus.
4)      Pemberian intrapleura
Pemberian obat ini bertujuan untuk mengurangi produksi cairan pleura dan membunuh sel kanker.
5)      Pemberian intraperitoneal
Pemberian ini bertujuan untuk mengurangi cairan asites, obat ini diberikan intraperineum.

Syarat Pemberian Sitostatika
1)      Keadaan umum harus baik
2)      Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping yang terjadi.
3)      Faal ginjal dan hati baik.
4)      Diagnosis histopatologik diketahui.
5)      Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi.
6)      Hb > 10 gr%.
7)      Leukosit > 5000/ml.
8)      Trombosit > 100.000/ml.
 Selain persyaratan di atas, ada syarat yang harus dipenuhi dalam pemberian pengobatan.
1)      Mempunyai pengetahuan sitostatika dan manajemen kanker.
2)      Dilengkapi secara sarana laboratorium yang lengkap.

 Efek toksik yang paling cepat tampak adalah efek pada traktus digestivus yaitu :
1)      Gingivitis
2)      Diare
3)      Rasa mual
4)      Muntah
5)      Pendarahan usus
6)      Anemia
7)      Leukopenia
8)      Trombositopenia
9)      Kenaikan suhu
10)  Hiperpigmentasi
11)  Gatal – gatal
12)  Kenaikan kadar ureum dan kreatinin.

11.  Komplikasi
 Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah yaitu (Wiknjosastro, 2006) :
1)      Ke arah fornises dan dinding vagina
2)      Ke arah korpus uterus.
3)      Ke arah paramerium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandungkemih.

Menurut Sylvia (2005) komplikasi yang dapat terjadi pada ca serviks setelah dilakukan tindakan pemedahan maupun radiasi adalah sebagai berikut:
a.       Berkaitan dengan intervensi pembedahan
·         Vistula Uretra
·         Disfungsi bladder
·         Emboli pulmonal
·         Infeksi pelvis
·         Obstruksi usus
b.      Berkaitan dengan kemoterapi
·         Sistitis radiasi
·         Enteritis
c.       Berkaitan dengan kemoterapi
·         Supresi sumsum tulang
·         Mual muntah akibat pengunaan obat kemoterapi yang mengandung sisplatin
·         Kerusakan membrane mukosa GI
·          Mielosupresi

B.     Asuhan Keperawatan Teori

1.      Pengkajian
a.      Identitas Klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada anak), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, dan diagnosis medis. Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat dilakukan pengkajian seperti nafsu makan berkurang, nyeri panggul dan pinggang, kelemahan, dari vagina keluar air kencing, dll.


b.      Riwayat Keperawatan
1.      Keluhan Utama
Pada keluhan utama yang ditanyakan adalah keluhan atau gejala apa yang menyebabkan pasien datang berobat atau masuk RS.
2.      Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan yang lalutentang penyakit yang berhubungan dengan kanker seperti endodermis, diabetes, hipertensi, jantung, mioma. Dikaji juga tentang penggunaan estrogen lebih dari 3 tahun. Riwayat kesehatan saat ini yaitu keluhan sampai saat klien pergi kerumah sakit seperti terjadinya pendarahan pervagina diluar siklus haid, pendarahan post koitus, nyeri pada abdomen, amenorrhoe dan hipernorrhoe, pengeluaran cairan vagina yang berbau.
3.      Riwayat penyakit keluarga
Pada pengumpulan data tentang riwayat keluarga bagaimana riwayat kesehatan atau keperawatan yang ada dimiliki pada salah satu satu anggota keluarga, apakah ada yang menderita penyakit seperti yang dialami klien atau mempunyai penyakit degeneratif.
4.      Riwayat penyakit dahulu
Pada pengumpulan data riwayat kesehatan dapat ditanyakan anatara lain riwayat pemakaian obat, kejadian kesehatan yang pernah dialami sebelum msuk RS atau sudah pernah masuk RS sebelumnya.
5.      Riwayat Kebiasaan
Pemenuhan kebutuhan nutrisi, elimenasi, aktivitas klien sehari-hari, pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur.
6.      Riwayat psikologi
Tentang penerimaan klien terhadap penyakitnya serta harapan terhadap pengobatan yang akan dijalani, hubungan dengan suami/keluarga terhadap klien dari sumber keuangan. Konsep diri klien meliputi gambaran diri peran dan identitas. Kaji juga ekspresi wajah klien yang murung atau sedih serta keluhan klien yang merasa tidak berguna atau menyusahkan orang lain.
c.       Pola Fungsional
1.      Pemeliharaan dan persepsi kesehatan.
Kanker serviks dapat diakibatkan oleh higiene yang kurang baik pada daerah kewanitaan. Kebiasaan menggunakan bahan pembersih vagina yang mengandung zat – zat kimia juga dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks.
2.      Pola istirahat dan tidur.
Pola istirahat dan tidur pasien dapat terganggu akibat dari nyeri akibat progresivitas dari kanker serviks ataupun karena gangguan pada saat kehamilan.gangguan pola tidur juga dapat terjadi akibat dari depresi yang dialami oleh ibu.
3.       Pola eliminasi
Dapat terjadi inkontinensia urine akibat dari uterus yang menekan kandung kemih. Dapat pula terjadi disuria serta hematuria. Selain itu biisa juga terjadi inkontinensia alvi akibat dari peningkatan tekanan otot abdominal
4.      Pola nutrisi dan metabolik
Asupan nutrisi pada Ibu hamil dengan kanker serviks harus lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelum kehamilan. Dapat terjadi mual dan muntah pada awal kehamilan. Kaji jenis makanan yang biasa dimakan oleh Ibu serta pantau berat badan Ibu sesuai dengan umur kehamilan karena Ibu dengan kanker serviks juga biasanya mengalami penurunan nafsu makan. Kanker serviks pada Ibu yang sedang hamil juga dapat mengganggu dari perkembangan janin.
5.      Pola kognitif – perseptual
Pada Ibu hamil dengan kanker serviks biasanya tidak terjadi gangguan pada pada panca indra meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, pengecap.
6.       Pola persepsi dan konsep diri
Pasien kadang merasa malu terhadap orang sekitar karena mempunyai penyakit kanker serviks, akibat dari persepsi yang salah dari masyarakat. Dimana salah satu etiologi dari kanker serviks adalah akibat dari sering berganti – ganti pasangan seksual.
7.      Pola aktivitas dan latihan.
Kaji apakah penyakit serta kehamilan pasien mempengaruhi pola aktivitas dan latihan. Dengan skor kemampuan perawatan diri (0= mandiri, 1= alat bantu, 2= dibantu orang lain, 3= dibantu orang lain dan alat, 4= tergantung total).
8.      Pola seksualitas dan reproduksi
Kaji apakah terdapat perubahan pola seksulitas dan reproduksi pasien selama pasien menderita penyakit ini. Pada pola seksualitas pasien akan terganggu akibat dari rasa nyeri yang selalu dirasakan pada saat melakukan hubungan seksual (dispareuni) serta adanya perdarahan setelah berhubungan. Serta keluar cairan encer (keputihan) yang berbau busuk dari vagina.
9.      Pola manajemen koping stress
Kaji bagaimana pasien mengatasi masalah-masalahnya. Bagaimana manajemen koping pasien. Apakah pasien dapat menerima kondisinya setelah sakit. Ibu hamil dengan kanker serviks biasanya mengalami gangguan dalam manajemen koping stres yang diakibatkan dari cemas yang berlebihan terhadap risiko terjadinya kematian janin serta keselamatan dirinya sendiri.

10.  Pola peran – hubungan
Bagaimana pola peran hubungan pasien dengan keluarga atau lingkungan sekitarnya. Apakah penyakit ini dapat mempengaruhi pola peran dan hubungannya. Biasanya koping keluarga akan melemah ketika dalam anggota keluarganya ada yang menderita penyakit kanker serviks.
11.  Pola keyakinan dan nilai
Kaji apakah penyakit pasien mempengaruhi pola keyakinan dan nilai yang diyakini.
d.      Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan umum
Keadaan umum dapat meliputi kesan sakit termasusk ekspresi wajah dan posisi pasien, kesadaran yang dapat meliputi penilaian secara kualitas, dan status gizi.
2.      Tanda-Tanda Vital
Meliputi Tekanan darah, RR, Suhu, dan Nadi
3.      Head to toe
Inspeksi :
a.       Kepala : Rambut rontok, mudah tercabut, warna rambut.
b.      Mata : Konjungtiva pucat, icterus pada skelera.
c.       Leher : Pembesaran kelenjar limfe, bendungan vena jugularis.
d.      Payudara : Kesimetrisan, bentuk adanya  massa.
e.       Dada : Kesimetrian, ekspansi dada, tarikan dinding dada pada inspirasi, frekuensi pernafasan.
f.       Abdomen : Terdapat luka operasi, bentuk, warna kulit, pelebaran vena-vena abdomen, nampak pembesaran, striaet
g.      Genetalia : Sekret, keputihan, peradangan, pendaahan, lesi.
h.      Ekstermitas : Oedema, atrofi, hipertrofi, tonus dan kekuatan otot.
Palpasi :
a.       Leher : pembesaran kelenjar limfe leher dan kelenjar limfe sub mandibularis.
b.      Payudara : teraba massa abnormal, nyeri tekan.
c.       Abdomen : teraba massa, ukuran dan konsistensi massa, nyeri tekan, perabaan hepar, ginjal dan limfe.
Perkusi :
a.       Abdomen : hipertympani, tympani, redup, pekak, batas-batas hepar.
b.      Refleks fisiologi dan patologis.
Auskultasi :
a.       Abdomen, meliputi peristaltik usus, bising aorta abdominalis, arteri renalis dan arteri iliaca.
2.      Diagnosa Keperawatan
1.      Kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan tubuh secara aktif akibat pendarahan
2.      Nyeri kronis atau akut  b.d nekrosis jaringan pada serviks akibat penyakit kanker serviks
3.      Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan yang b.d anoreksia sekunder akibat mual dan muntah.
4.      Ansietas b.d diagnosis kanker, takut akan rasa nyeri, kehilangan femininitas dan perubahan bentuk tubuh.
5.      Intoleransi aktivitas b.d tirah baring atau imobilitas.
6.      Disfungsi seksual b.d perubahan fungsi tubuh akibat proses penyakit kanker serviks.
7.      Risiko infeksi b.d penyakit kronis (metastase sel kanker)
8.      Gangguan eliminasi urinarius b.d trauma mekanis, manipulasi bedah, adanya edema jaringan lokal, hematoma, gangguan sensori/motorik dan infiltrasi kanker pada traktus urinarius.
9.      Gangguan pola tidur b.d ketidaknyamanan di akibatkan oleh nyeri.
10.  Gangguan citra tubuh b.d proses penyakit.

7.      Intervensi Keperawatan
Diagnosa
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
Kekurangan volume cairan b.d kehilangan volume cairan tubuh secara aktif akibat pendarahan
Tujuan :
Dalam waktu 2x24 jam masalah keperawatan kekurangan volume cairan teratasi
KH :
1.      Tekanan darah normal (110-140/60-90 mmHg)
2.      Nadi normal (70-100 x/i)
3.      Turgor kulit baik.
4.      Tidak terjadi lagi perdarahan
1.   Awasi masukan dan haluaran. Ukur volume darah yang keluar melalui pendarahan


2.   Pantau TTV. Evaluasi nadi perifer, dan pengisian kapiler.

3.   Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan perhatikan keluhan haus pada pasien
4.   Kolaborasi :
Berikan cairan IV sesuai indikasi

1.  Memberikan pedoman untuk penggantian cairan yang perlu diberikan sehingga dapat mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen
2.  Menunjukan keadekuatadn sirkulasi


3.  Merupakan indikator dari status hidrasi / derajat kekurangan cairan

4.  Penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya pendarahan (akut / kronis).
Nyeri kronis atau akut  b.d nekrosis jaringan pada serviks akibat penyakit kanker serviks
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam masalah keperawatan teratasi.
KH :
1.    Wajah klien tampak lebih rilek
2.    Skala nyeri menurun
3.    Klien mampu beristirahat
1.     Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif [catat keluhan, lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan intensitas (skala 0-10) dan tindakan penghilangan nyeri yang dilakukan]
2.     Pantau tanda - tanda vital 

3.     Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri seperti teknik relaksasi dan teknik distraksi, misalnya dengan mendengarkan musik, membaca buku, dan sentuhan terapeutik. 
4.     Berikan posisi yang nyaman sesuai kebutuhan pasien    


5.     Dorong pengungkapan perasaan pasien


6.     Evaluasi upaya penghilangan nyeri / kontrol  pada pasien


7.     Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan perawatan diri yang penting
8.     Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi   



9.     Kolaborasi untuk pengembangan rencana manajemen nyeri dengan pasien, keluarga, dan tim kesehatan yang terlibat .
1.   Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan informasi tentang kemajuan atau perbaikan penyakit, terjadinya komplikasi dan keefektifan intervensi.
2.   Peningkatan nyeri akan mempengaruhi perubahan pada tanda - tanda vital
3.   Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif untuk mengontrol rasa nyeri yang dialami, serta dapat meningkatkan koping pasien.

4.   Memberikan rasa nyaman pada pasien, meningkatkan relaksasi, dan membantu pasien untuk memfokuskan kembali perhatiannya.
5.   Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga mengurangi persepsi pasien akan intensitas rasa sakit.
6.   Tujuan yang ingin dicapai melalui upaya kontrol adalah kontrol nyeri yang maksimum dengan pengaruh / efek samping yang minimum pada pasien.
7.   Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri
8.   Nyeri adalah komplikasi tersering dari kanker, meskipun respon individual terhadap nyeri berbeda-beda. Pemberian analgetik dapat mengurangi nyeri yang dialami pasien.
9.   Rencana manajemen nyeri yang terorganisasi dapat mengembangkan kesempatan pada pasien untuk mengontrol nyeri yang dialami. Terutama dengan nyeri kronis, pasien dan orang terdekat harus aktif menjadi partisipan dalam manajemen nyeri di rumah.
Ansietas b.d diagnosis kanker, takut akan rasa nyeri, kehilangan femininitas dan perubahan bentuk tubuh.
Tujuan :
Dalam waktu 2x24 jam masalah keperawatan ansietas dapat teratasi.
KH :
Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa takut dan cemas.
1.     Tinjau ulang pengalaman pasien/orang terdekat sebelumnya dengan kanker. Tentukan apakah dokter telah menjelaskan kepada pasien dan apakah kesimpulan pasien telah dicapai.
2.     Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan.

3.     Berikan informasi akurat, konsistensi mengenai prognosis, hindari memperdebatkan tentang  persepsi pasien terhadap situasi.

4.     Obervasi respon verbal dan nonverbal pasien yang menunjukkan adanya kecemasan
1.   Membantu dalam identifikasi rasa takut dan kesalahan konsep berdasarkan pada  pengalaman pada kanker.


2.   Memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistik serta kesalaahn konsep tentang diagnostik.
3.   Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan/ pilihan  berdasarkan realita


4.   Kecemasan dapat ditutupi oleh pasien dengan komentar/ kemarahan yang ditunjukkan pasien kepada pemberi perawatan
Intoleransi aktivitas b.d tirah baring atau imobilitas
Tujuan ;
Dalam waktu 2x24 jam maslaah intoleransi aktivitas teratasi
KH :
1.       Pasien mampu melakukan aktivitas biasa dengan normal tanpa bantuan perawat / orang terdekat
2.       Pasien mengatakan lebih bertenaga dan tidak lemas

1.     Pantau respon fisiologis terhadap aktivitas, misalnya perubahan tekanan darah dan frekuensi jantung serta pernafasan

2.     Dorong pasien untuk melakukan aktivitas ringan, bila mungkin. Tingkatkan tingkat partisipasi pasien sesuai toleransi pasien
3.     Dorong masukan nutrisi

1.        Toleransi sangat bervariasi tergantung pada tahap proses penyakit, status nutrisi, keseimbangan cairan, serta oksigenasi.

2.        Meningkatkan rasa membaik dan mencegah terjadinya frustasi pada pasien

3.        Masukan nutrisi adekuat perlu untuk memenuhi kebutuhan energi
Risiko infeksi b.d penyakit kronis (metastase sel kanker
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam masalah resiko infeksi teratasi.
KH :
1.       Tidak tampak tanda - tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesia).
2.       Nilai WBC (sel darah putih) dari pemeriksaan laboratorium berada dalam batas normal (4 - 9 103/µL)
1.   Kaji tanda / gejala infeksi secara kontinyu pada semua sistem tubuh  (misalnya : pernafasan, pencernaan, genitourinaria).
2.   Pantau perubahan suhu pasien

3.   Pertahankan teknik perawatan aseptik. Hindari / batasi prosedur invasif
4.   Utamakan personal hygiene



5.   Kolaborasi :
Awasi hasil laboratorium untuk melihat adanya diferensial atau peningkatan WBC
6.   Kolaborasi :
Berikan antibiotik
1.       Pengenalan dini dan intervensi segera dapat mencegah perkembangan infeksi lebih lanjut

2.       Peningkatan suhu kemungkinan terdapat infeksi dalam tubuh.
3.       Menurunkan risiko kontaminasi agen infeksius
4.       Membantu mengurangi pajanan potensial sumber infeksi dan menimalisir paparan pertumbuhan sekunder patogen
5.       Diferensial dan peningkatan WBC merupakan salah satu respon tubuh untuk mengatasi infeksi yang timbul oleh antigen
6.       Digunakan untuk menghambat perkembangan agen infeksius













BAB III
TINJAUAN KASUS

Kasus
Ny. K Sejak lima belas hari sebelum datang kerumah sakit, pasien mengalami perdarahan. Darah keluar dari kemaluanya. Warna merah segar. Tidak nyeri. Perdarahan makin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur. Pasien tidak pernah mengalami terlambat haid sebelumnya. Tiga hari sebelum masuk RS pasien dirawat dirumah sakit Gunung Jati Cierebon, hingga akhirnya pasien dirujuk ke RSCM. Nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin krus. Lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan. Pasien sudah berobat kedokter untuk masalah keputihan tapi belum sembuh. Pasien tidak merokok. Buang air kecil lancar. Batu (-). Pasien berpenampilan sederhanan sesuai dengan usia. Kesan status sosial ekonomi menengah bawah. Gizi cukup, dapat berkomunikasi dengan baik, kurang kooperatif.

A.    Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama   : Ny. K
Umur   :
Jenis Kelamin  :
Pekerjaan         :
Alamat                        :
Pendidikan      :



2. Riwayat Keperawatan
a. Keluhan utama
Ny. K Sejak lima belas hari sebelum datang kerumah sakit, pasien mengalami perdarahan.
b. Riwayat penyakit sekarang
Darah keluar dari kemaluanya. Warna merah segar. Tidak nyeri. Perdarahan makin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur. Pasien tidak pernah mengalami terlambat haid sebelumnya. Nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin kurus. Pasien tidak merokok. Buang air kecil lancar. Batu (-), gizi cukup.  Pasien berpenampilan sederhanan sesuai dengan usia. Kesan status sosial ekonomi menengah bawah
c. Riwayat penyakit dahulu
Lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan. Pasien sudah berobat kedokter untuk masalah keputihan tapi belum sembuh. Tiga hari sebelum masuk RS pasien dirawat dirumah sakit Gunung Jati Cierebon, hingga akhirnya pasien dirujuk ke RSCM.
d. Riwayat psikososial
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik, kurang kooperatif.
3. Pola Fungsional
1.             Pemeliharaan dan persepsi kesehatan.
2.             Pola istirahat dan tidur
3.             Pola eliminasi
4.             Pola nutrisi dan metabolik

5.             Pola kognitif dan presptual

6.             Pola konsep diri

7.             Pola aktivitas dan latihan



8.             Pola seksual dan reproduksi


9.             Pola koping stress
10.         Pola peran dan hubungan

11.         Pola keyakinan

1.         

2.          -
3.          Buang air kecil lancar.
4.          Nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin kurus
5.          Pasien dapat berkomunikasi dengan baik, kurang kooperatif.
6.          Pasien berpenampilan sederhanan sesuai dengan usia
7.          Perdarahan makin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur.
8.          Lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan. Pasien tidak mengalami terlambat haid.
9.          -
10.      Kesan status sosial ekonomi menengah bawah.
11.      -

B.     Data Fokus
Data Subjektif
Data Objektif
1.      Pasien mengatakan mengalami perdarahan.
2.      Pasien mengatakan darah keluar dari kemaluannya.
3.      Pasien mengatakan perdarahan semakin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur.
4.      Pasien mengatakan nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin kurus.
5.      Pasin mengatakan lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan.



C.    Analisa Data
Data
Etiologi
Masalah
DS :
  1. Pasien mengatakan mengalami perdarahan
  2. Pasien mengatakan darah keluar dari kemaluannya.
Kehilangan cairan aktif
Kekurangan volume cairan
DS ;
  1. Pasien mengatakan perdarahan semakin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur.

Imobilitas
Intoleransi aktivitas
DS :
  1. Pasien mengatakan nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin kurus.
Anoreksia
Resiko ketidaksiembangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
DS :
  1. Pasin mengatakan lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan.

Melemahnya daya tahan  sekunder : kanker
Risiko infeksi

D.    Diagnosa Keperawatan
1.      Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif ditandai dengan Pasien mengatakan mengalami perdarahan, Pasien mengatakan darah keluar dari kemaluannya.
2.      Resiko ketidaksiembangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia ditandai dengan Pasien mengatakan nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin kurus.
3.      Intoleransi aktivitas b.d imobilitas yang ditandai dengan  Pasien mengatakan perdarahan semakin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur.
4.      Resiko infeksi b.d Melemahnya daya tahan  sekunder : kanker yang ditandai dengan Pasien mengatakan lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan.
















E.     Intervensi Keperawatan

Diagnosa
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif ditandai dengan Pasien mengatakan mengalami perdarahan, Pasien mengatakan darah keluar dari kemaluannya
Tujuan :
Dalam waktu 2x24 jam masalah kekuranagn volume cairan teratasi
KH :
1.      Tekanan darah normal (110-140/60-90 mmHg)
2.        Nadi normal (70-100 x/i)
3.        Turgor kulit baik
4.        Tidak terjadi lagi perdarahan
1.     Awasi masukan dan haluaran. Ukur volume darah yang keluar melalui pendarahan


2.     Pantau TTV. Evaluasi nadi perifer, dan pengisian kapiler

3.     Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan perhatikan keluhan haus pada pasien

4.     Kolaborasi :
Berikan cairan IV sesuai indikasi


1.       Memberikan pedoman untuk penggantian cairan yang perlu diberikan sehingga dapat mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen
2.       Menunjukan keadekuatadn sirkulasi


3.       Merupakan indikator dari status hidrasi / derajat kekurangan cairan


4.       Penggantian cairan tergantung pada derajat hipovolemia dan lamanya pendarahan (akut / kronis).
Resiko ketidaksiembangan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia ditandai dengan Pasien mengatakan nafsu makan berkurang dan terasa badan semakin kurus
Tujuan ;
Dalam waktu 2x24 jam masalah keperawatan risiko ketidakseimbangan nutrisi tidak terjadi.
KH ;
1.   Pasien mengataka ada nafsu makan
2.   BB pasien meningkat
3.   Makanan yang disediakan habis
4.   Tidak ada mual dan muntah
5.   Hb dan Ht normal.


1.     Pantau masukan makanan setiap hari

2.     Ukur BB setiap hari / sesuai indikasi
3.     Dorong klien untuk makan makanan tinggi kalori, kaya nutrien
4.     Ciptakan suasana makan yang menyenangkan

5.     Dorong penggunaan tehnik relaksasi, visualisasi sebelum makan
6.     Dorong makan sedikit tapi sering.

1.   Melihat makanan yang diberikan dan bagaimana pasien menangap makanan tersebut
2.   Mengukur BB melihat bagaimana intervnsi yang kita berikan
3.   Makan-makanan yang tinggi kalori membantu pembentukan energi dan membantu dalam proses penyembuhan.
4.   Suasana yang menyenangkan memberikan rasa nafsu terhadap makan.
5.   Dengan relaksasi kita dapat merasakan lebih nyaman

6.   Walaupun sedikit tapi harus sering diberikan untuk menghilangkan rasa jenuh.
Intoleransi aktivitas b.d imobilitas yang ditandai dengan  Pasien mengatakan perdarahan semakin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur.
Tujuan :
Dalam waktu 2x24 jam masalah intoleransi aktivitas teratasi.
KH :
1.     Pasien mampu melakukan aktivitas biasa dengan normal tanpa bantuan perawat / orang terdekat
2.       Pasien mengatakan lebih bertenaga dan tidak lemas

1.   Dorong pasien untuk melakukan aktivitas ringan, bila mungkin. Tingkatkan tingkat partisipasi pasien sesuai toleransi pasien.
2.   Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas.
3.   Monitor nutrisi yang adekuat

4.   Monitor pola tidur/istirahat dan lamanya.
5.   Bantu pasien dalam mengembangkan motifasi hidup.

6.   Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disuka.
1.   Meningkatkan rasa membaik dan mencegah terjadinya frustasi pada pasien.

2.   Lihat mana saja aktivitas yang dapat dilakukan
3.   Dengan nutrisi yang adekuat dapat membantu perbaikan di dalam tubuh
4.   Istirahat yang cukup dan meminimalkan dalam pergerakan
5.   Memberikan motifasi atau meberikan hal positif, agar pasien tidak patah semngat dalam berobat
6.   Aktivitas apa yang disukai dan tidak banyak mengeluarkan energi.

Resiko infeksi b.d Melemahnya daya tahan  sekunder : kanker yang ditandai dengan Pasien mengatakan lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan.
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam masalah resiko infeksi teratasi
KH :
1.    Tidak tampak tanda - tanda infeksi (kalor, rubor, dolor, tumor, fungsio laesia).
2.    Nilai WBC (sel darah putih) dari pemeriksaan laboratorium berada dalam batas normal (4 - 9 103/µL)
1.       Kaji tanda / gejala infeksi secara kontinyu pada semua sistem tubuh  (misalnya : pernafasan, pencernaan, genitourinaria).

2.       Pantau perubahan suhu pasien

3.       Pertahankan teknik perawatan aseptik. Hindari / batasi prosedur invasif
4.       Utamakan personal hygiene



5.       Pantau tanda –tanda infeksi

6.       Inspeksi kulit dan mukosa

7.       Kolaborasi :
Awasi hasil laboratorium untuk melihat adanya diferensial atau peningkatan WBC
8.       Kolaborasi :
Berikan antibiotik
1.       Pengenalan dini dan intervensi segera dapat mencegah perkembangan infeksi lebih lanjut


2.       Peningkatan suhu kemungkinan terdapat infeksi dalam tubuh.
3.       Menurunkan risiko kontaminasi agen infeksius

4.       Membantu mengurangi pajanan potensial sumber infeksi dan menimalisir paparan pertumbuhan sekunder patogen
5.       Aagar dapat melakukan penanganan yang langsung.
6.       Melihat bagaimana mukosa klien

7.       Diferensial dan peningkatan WBC merupakan salah satu respon tubuh untuk mengatasi infeksi yang timbul oleh antigen
8.       Digunakan untuk menghambat perkembangan agen infeksius


BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya .
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain, umur pertama kali melakukan hubungan seksual, jumlah kehamilan dan partus, infeksi virus, sosial ekonomi, hygiene dan sirkumsisi, merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).

B.     Saran
Diharapkan dengan hadirnya makalah ini maka mahasiswa maupun praktisi kesehatan dapat memahami konsep dasar penyakit maupun asuhan keperawatan pada pasien dengan kanker serviks dengan tepat.
















DAFTAR PUSTAKA

Aziz Farid M, Andrijono, Saifuddin AB. Buku Acuan Nasional Onkologi dan Ginekologi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo; 2006.
Brunner & Suddart. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi ke- 8. Vol ke-2. Jakarta : EGC; 2002.
Cunningham, F. G. Dasar- dasar ginekologi & obstetri.Jakarta: EGC; 2010.
Hinchliff S. Kamus Keperawatan. Edisi ke-18. Jakarta: EGC; 2001.
Junadi, Purnawan. Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius Universitas Indonesia; 2002.
Mardjikoen Praswoto. Tumor Ganas Alat Genital, subbagian Karsinoma Servisis Uteri. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo; 2001.
Ocviyanti Dwiana. HPV dan Kanker Serviks. Power Point IVA. Jakarta,2008.
Price AS, Wilson ML. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi ke-4. Jakarta: EGC; 2005.
Rahmawan, A. Kanker serviks pada kehamilan. Banjarmasin: Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan; 2009.
Sarwono. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka; 1997
Wiknjosastro, H. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2006.
Wilkinson MJ, Ahern RN. Buku Saku Diagnosis keperawatan, Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Edisi ke-9. Jakarta; 2013.


KLARIFIKASI ISTILAH

1.    Perdarahan

Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah akibatkerusakan (robekan) pembuluh darah. Kehilangan darah bisa disebabkan perdarahan internal dan eksternal. Perdarahan internal lebih sulit diidentifikasi.Jika pembuluh darah terluka maka akan segera terjadi kontriksi dinding pembuluh darah sehingga hilangnya darah dapat berkurang. Platelet mulaimenempel pada tepi yang kasar sampai terbentuk sumbatan (Sue Hinchliff, 2001).

2.      Keputihan

Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal pada wanita. Keputihan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis).  Keputihan fisiologis adalah keputihan yang biasanya terjadi setiap bulannya, biasanya muncul menjelang menstruasi atau sesudah menstruasi ataupun masa subur. Keputihan patologis dapat disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakterivirusjamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil (Sue Hinchliff, 2001).


3.        Kooperatif

Kooperatif adalah suatu gambaran kerjasama antara individu yang satu dengan lainnya dalam suatu ikatan tertentu. Ikatan–ikatan tersebut yang menyebabkan antara satu dengan yang lainnya merasa berada dalam satu tempat dengan tujuan–tujuan yang secara bersama–sama diharapkan oleh setiap orang yang berada dalam ikatan itu. Pemikiran tersebut hanya merupakan suatu gambaran sederhana apa yang tersirat tentang kooperatif (Sue Hinchliff, 2001).






IDENTIFIKASI MASALAH

1.      Mengapa pasien mengalami perdarahan yang keluar dari kemaluannya?
Jawaban:
Karna ketika dysplasia terus mengalami perkembangan yang menyebabkan squoma columnar junction akan menembus sel sampai ke stroma serviks dan terjadi infiltrasi yang berkembang menjadi karsinoma serviks invasif dimana akan meluas ke dalam jaringan ikat yang akan menembus pembuluh limfe dan vena, dimana akan merobek dinding pembuluh darah yang akan menyebabkan perdarahan pada daerah serviks.
2.      Mengapa perdarahan semakin banyak kalau pasien berjalan sehingga sejak lima belas hari yang lalu pasien lebih banyak berbaring ditempat tidur?
Jawaban:
Karna pada saat berjalan laju metabolisme meningkat, dan pada saat berjalan akan menekan stroma serviks sehingga perdarahan dikeluarkan akan bertambah.
3.      Mengapa nafsu makan klien berkurang dan terasa badan semakin kurus?
Jawaban:
Akibat karsinoma telah merusak dinding pembuluh darah dan terjadi perdarahan akan menyebabkan kehilangan darah yang banyak, dimana fungsi darah sendiri adalah menghantarkan nutrisi, kemudian akan terjadi kerusakan mukosa pada gastrointestinal dimana terjadi respon mual muntah dan anoreksia.
4.      Mengapa sejak lima bulan sebelum masuk RS pasien mengalami keputihan?
Jawaban:
Karna squoma columnar junction masuk kea rah lumen vagina masssa proliferasi yang akan menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan dengan respon mengeluarkan flour albus (keputihan) dan berisiko untuk terjadi infeksi lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar